TUJUH TAHUN BERDIRI, TUJUH TAHUN “BERTANYA” TIADA HENTI




Sudah 7 tahun Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh berdiri. Sudah 7 tahun pula lembaga ini berbakti bagi Aceh, khususnya Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. Sudah 111.483 jiwa yang menerima manfaat program-program kesehatan yang diluncurkan sejak 17 Juli 2012 silam hingga kini. Keberadaan 1 Gerai Sehat selaku klinik kesehatan tingkat pertama biasa pun bermetamorfosis mulai dari hanya melayani pasien member dhuafa (yang sudah terverifikasi) hingga kini sudah bekerjasama dengan BPJS agar lebih terintegrasi dengan layanan spesialistik di rumah sakit. Melayani lebih 80.000 dhuafa di klinik dengan segala lika-likunya, hingga memiliki beberapa komunitas binaan baik di desa-desa, sekolah dasar, kampus dan posyandu, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (ke depan akan disingkat dengan LKC) Dompet Dhuafa Aceh tak lepas dari proses bertumbuh yang luar biasa.

Semua proses pengembangan program tak luput dari banyak kegelisahan, harapan dan coret-coretan baik di atas kertas atau pikiran. Mungkinkah? Bisakah? Akankah? Lalu belum lagi dengan rintangan yang pasti sudah menanti di hadapan; sulitkah? Rumitkah? Menyerah sajakah? Diperjuangkankah?
Lalu semua pertanyaan tadi menemukan jawaban demi jawabannya. Membentuk program-program yang menemukan alurnya dalam memenuhi target dan tujuannya. Terkendala, dirapatkan, dicarikan solusinya, lalu berjalan kembali. Sungguh, di balik segala pencapaian LKC Dompet Dhuafa Aceh, ada banyak tenaga dan emosi yang terkuras. Ada banyak keluarga para karyawannya yang sabar memberi dukungan dari rumahnya masing-masing demi berjalannya tugas di lapangan. Ada banyak turun tangannya masyarakat dalam memastikan jalannya program sesuai rencana. Ada mitra-mitra dan donatur (ada lebih dari 50 lembaga/organisasi yang tercatat logonya, ratusan yang bersedekah dengan berbagai jumlah nominal) yang mendukung proses-proses LKC Dompet Dhuafa Aceh menuju tujuan sekaligus tagar yang kitausung sejak beberapa waktu ini, #SehatMilikSemua.
Meski secara usia LKC Dompet Dhuafa Aceh baru bisa masuk SD, ada 13 SD/MI binaan kita di Banda Aceh & Aceh Besar. Sejak 2015, kita mengembangkan Program Unggulan Anak Indonesia Sehat hingga hari ini di sekolah-sekolah tersebut dengan penekanan kuat di pengembangan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Menjalin hubungan mitra di tingkat kecamatan, desa dan dewan sekolah agar terintegrasinya dukungan dari berbagai pihak terus dilakukan. Memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana program ini bisa terus berjalan meski LKC Dompet Dhuafa Aceh tak sedang turun ke sekolah. Pertanyaan demi pertanyaan terekam di notulensi. Untuk lalu mencari arah diskusinya. Arah solusinya.

LKC Dompet Dhuafa Aceh juga kini memiliki 8 posyandu binaan yang juga masih berlokasi di Banda Aceh & Aceh Besar. Kesemua posyandu itu juga dibina dengan banyak sekali pertanyaan. Bagaimana cara menjalankannya? Apa menu PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya? Sudahkah semua kader paham pentingnya 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan)? Bagaimana jika ada yang kesulitan menyusui? Kooperatifkah bidan desanya dalam mengampu jalannya program?
Belum lagi pasien-pasien dhuafa yang meski sudah memiliki BPJS, namun tetap terkendala rutin datang ke rumah sakit rujukan provinsi di Banda Aceh untuk mengambil 400 kantong NaCl untuk keperluan cuci darah sementara mereka berada di Subulussalam (kurang lebih 9-11 jam perjalanan darat). Lalu kitapun berusaha membantu mengambilkan ke rumah sakit. Mengirimkan dengan ongkos kirim Rp. 500.000 per bulannya (dan ada 5 pasien dengan kebutuhan yang sama) dengan sebuah pertanyaan; sampai kapankah kita bisa membantu mereka? Mampukah kita secara finansial membantu mereka yang sakit kronis ini terus-menerus?

Hingga kini 2 dari 5 pasien cuci darah di atas akhirnya menghembuskan nafasnya, kitamasih membantu mengambilkan dan mengirimkan kebutuhan pengobatan mereka untuk terakhir kalinya. Lalu pasien-pasien dengan macam-macam diagnosa lainnya; meski sudah memiliki BPJS namun masih butuh transportasi, butuh pendampingan (sebab belum paham harus ke mana dan bagaimana di Banda Aceh) dan segala hal-hal operasional lain yang tidak ditanggung BPJS, kemanakah mereka akan mencari? Kitaterus bertanya dalam hati. Meski dengan hanya 1 mobil ambulans, LKC Dompet Dhuafa Aceh masih rutin mengantar dan menjemput puluhan pasien dari desanya ke Gerai Sehat atau rumah sakit setiap minggunya, sesanggup-sanggupnya.

Dengan segala pergerakan zaman, LKC Dompet Dhuafa Aceh mulai menyesuaikan irama. Mencoba mengabarkan pada dunia mengenai semua pertanyaan kitadi media sosial. Bermimpi suatu hari bisa mengelola akun Youtube agar bisa menceritakan kepada dunia apa yang para pasien dhuafa rasakan serta bagaimana program-program kesehatan lainnya masih dibutuhkan di banyak area terpinggir dan marginal. Berharap bisa mengelola lebih banyak corong suara agar makin banyak yang bisa bermitra dan bergerak bersama dalam mewujudkan, lagi-lagi, #SehatMilikSemua.

Kini, mengelola 9 Pos Sehat dan Komunitas Senam, LKC Dompet Dhuafa Aceh mulai memasuki pintu baru yang lebih besar pertanyaan-pertanyaannya; bagaimana pendekatan terbaik mengajak mencegah terjadinya banyak penyakit terutama PTM (Penyakit Tidak Menular)? Bisakah? Mungkinkah? Akankah? Kita terus berupaya mengadakan pelatihan, penyuluhan, kampanye dan berbagai tools lainnya. Namun menjajaki jalan promotif dan preventif kesehatan ini tak bisa sesegera efek Paracetamol bagi yang sedang mengalami nyeri. Masih panjang jalan yang harus ditempuh menuju penguatan status kesehatan masyarakat dari segala level. Ya, bahkan jika fokus kami adalah kesehatan dhuafa, tanpa berfokus pada status kesehatan masyarakat secara umum pun tak bisa. Sebab pada akhirnya, status kesehatan masyarakat adalah hasil dari tak hanya dhuafanya, tapi juga masyarakat umum dalam satu daerah tersebut. Kita berpikir, mengembangkan program kesehatan bagi masyarakat umum (yang tentu saja sesuai kriteria) justru adalah tool yang sangat baik dalam meningkatkan status kesehatan para dhuafanya juga di daerah tersebut.

Maka di sinilah kami, masih terus bertanya dan bertanya. Untuk terus menemukan jawaban demi jawaban. Agar bisa terus berbakti. Agar terus bisa bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat. Agar mampu mewujudkan mimpi-mimpi yang tertunda. Demi kemanusiaan. Demi kesehatan. Demi kebaikan. Demi bangsa dan ummat yang lebih sehat, baik raganya, maupun jiwanya.
Milad mubarak ke-7 tahun, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh.
Teruslah “bertanya” tiada henti.


dr. Nuril Annissa Niswanto,
Banda Aceh, 17 Juli 2012 – 17 Juli 2019.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar